Sabtu, 13 April 2013

Penalaran Deduktif


Penalaran yang mana adalah proses untuk berpikir yang bertolak dari pengamatan empirik sehingga menghasilkan sejumlah konsep dan pegertian dan nantinya terbentuk proposisi sejenis yang dijadikan dasar penyimpulan (premis) diketahui benar atau salah sebagai hasil kesimpulan (konklusi) dengan metode berfikir deduktif akan diterapkannya hal – hal umum terlebih dahulu lalu kemudian dihubungnkan dengan bagian yang khusus. Hal ini berkseinambungan dengan melihat penalaran deduktif yang berpangkal pada peristiwa umum pada kebenaran yang diyakini dan berakhir di kesimpulan baru yang sifatnya lebih khusus.  Penalaran deduktif tergantung pada premisnya, artinya premis yang salah mungkin akan membawa kepada hasil yang  salah. Faktor – faktor dari penalaran deduktif diantaranya pembentukan teori, hipotesis, definisi operasional, instrumen, operasionalisasi. Ciri utama dari penalaran deduktif yaitu jika semua premisnya benar maka kesimpula juga pasti benar, dan semua info pada kesimpulan sudah ada secara implisit.

Jenis Penalaran Deduktif dibedakan atas 4 jenis Silogisme

Silogisme Kategorial
Silogisme yang terjadi dari tiga proposisi
Kaedah dalam silogisme kategorial adalah dimana silogisme harus terdiri dari 3 term (mayor minor dan penengah) dan 3 premis (mayor, minor, kesimpulan). Dimana ketika dua premis yang negatif tidak dapat menghasilkan simpulan sehingga bila salah satu premisnya negatif, maka simpulan pasti negatif begitu juga sebaliknya. Blai premisnya khusus simpulan akan bersifat khusus, dari premis mayor khusus dan premis minor negatid tidak dapat ditarik satu simpulan.

Contoh:
Semua Ayah adalah Pria.
Heru adalah Ayah.
Jadi, Heru adalah Pria

Silogisme Hipotesis
Silogisme yang terdiri atas premis mayor yang berproposisi konditional hipotesis. Premis mayornya bersfat pengandaian (jika). Kaedah dalam slogisme hipotesis bahwa menentukan kebenaran konklusinya bila premis – premis merupakan pernyataan yang benar. Jadwal hukum silogisme hipotesis adalah ketika A terlaksana maka B terlaksana juga begitu juga sebaliknya.  Atau bisa juga bila A tidak terlaksana maka B juga tidak terlaksana begitu juga sebaliknya.

Contoh:
Jika lapar, Saya makan banyak.
Saya lapar
Jadi saya makan banyak.

Silogisme Alternatif
Silogisme yang terdiri atas premis mayor berupa proposisi alternative. Premis minornya membenarkan salah satu alternativenya dan menolak alternative yang lain. Silogisme ini ada dua macam, silogisme disyungtif dalam arti sempit dan silogisme disyungtif dalam arti luas. Silogisme disyungtif dalam arti sempit mayornya mempunyai alternatif kontradiktif, konklusi yang dihasilkan selalu benar apabila prosedur penyimpulannya valid, sementara Silogisme disyungtif dalam arti luas premis mayomya mempunyai alternatif bukan kontradiktif bila premis minor mengakui salah satu alternatif konklusinya sah.

Contoh:
Ia diterima atau ditolak.
Ia diterima
Ternyata ia tidak ditolak.

Entimen
Silogisme yang dikemukakan hanya premis minor dan simpulan, premis ini jarang ditemukan pada tulisan / lisan. Entimen merupakan silogisme yang diperpendek.
PU: Semua A = B: Manusia pernah berbuat salah.
PK: Siska adalah manusia
S: Siska pernah berbuat salah.

Ada 2 cara dalam penarikan simpulan dalam penalaran deduktif, yang pertama penarikan simpulan secara langsung yang mana diperoleh dari satu premis dalam menghasilkan pernyataan baru.

1.      Semua S adalah P. (premis)
Sebagian P adalah S. (simpulan)

Contoh: Semua mahasiswa berambut pajang. (premis)
               Sebagian yang berambut panjang adalah mahasiswa. (simpulan)

2.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu pun S adalah tak-P. (simpulan)

Contoh: Semua mahasiswa terdaftar di data mahasiswa. (premis)
               Tidak satu pun mahasiswa tidak terdaftar di data mahasiswa. (simpulan)

3.      Tidak satu pun S adalah P. (premis)
Semua S adalah tak-P. (simpulan)

Contoh: Tidak seekor pun ayam adalah hewan mamalia. (premis)
               Semua ayam adalah bukan hewan mamalia. (simpulan)

4.      Semua S adalah P. (premis)
Tidak satu-pun S adalah tak P. (simpulan)
Tidak satu-pun tak P adalah S. (simpulan)

Contoh: Semua kucing adalah hewan mamalia. (premis)
               Tidak satu pun kucing adalah bukan hewan mamalia. (simpulan)
               Tidak satupun yang bukan mamalia adalah kucing. (simpulan)


Cara kedua yakni penarikan simpulan secara tidak langsung dengan silogisme dan entimen seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya.
Silogisme:
                Semua Makhluk Hidup bernafas
                Manusia adalah Makhluk Hidup
                Jadi, semua Manusia  bernafas.

Entimen:
Semua Programmer adalah orang yang membuat program.
Ricko adalah seorang Programmer
Ricko adalah orang yang yang membuat program.
Ricko adalah Programmer, orang yang membuat program.



Contoh Paragraf Deduktif
Perokok pasif cenderung lebih berbahaya bila dibandingkan dengan perokok aktif.  Hal ini pun sudah dibuktikan dengan berbagai survei yang dilakukan untuk menganalisa tingkat kecederungan perokok pasif yang sering berada di lingkungan para perokok aktif. Konsentrasi zat berbahaya di dalam tubuh perokok pasif lebih besar karena racun yang terhisap melalui asap rokok perokok aktif tidak terfilter.
Hal ini tidak berarti para perokok aktif tidak akan terkena kecenderungan mengidap berbagai penyakit. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar