Senin, 26 November 2012

Mengenal Acrophobia


Sebuah tulisan dan tips.

Sebuah kata fobia tentunya tidak asing di telinga kita, suatu gambaran umum yang terlintas di pikiran kita mengenai kata ini tentu mengarah pada ketakutan yang berlebihan sehingga justru karena fobia tersebut membuat penederitanya menjadi lemah dan tidak bisa menguasai dirinya. Padahal dalam keadaan normal setiap individu memiliki kemampuan dalam mengendalikan rasa takut, inilah yang berbahaya dimana ketika seseorang mengalami suatu trauma sehingga membuatnya mempunyai suatu jenis fobia karena fobia ini terdiri dari beberapa jenis.

Secara umum dapat didefinisikan bahwa jenis fobia terbagi atas 2 jenis yakni fobia sosial dan fobia spesifik. Dengan adanya kata ‘sosial’ pada jenis fobia yang pertama besar anggapan saya bahwa jenis fobia ini merupakan ketakutan akan bagaimana pengidap bersosialisi dan berinteraksi.  Diindikasikan dengan ketidaknyamanan yang berlebihan dalam suatu situasi sosial bahkan rasa malu ketika harus diamati, berbicara di depan publik apalagi membuat suatu hal yang mana membuat diri merasa dipermalukan. Cukup berbahaya karena layaknya manusia adalah bersosialisasi, dalam ilmu sosiologi ditekankan bahwa manusia adalah makhluk sosial dan tidak akan mungkin manusia bisa hidup sendiri tanpa interaksi dan bantuan orang lain. Jenis fobia yang kedua adalah fobia spesifik yang menurut saya lebih terfokus sejauh mana pengidap fobia ini memiliki rasa takut yang berlebihan akan suatu hal dan kondisi tertentu.  Untuk lebih spesifik mengenai fobia ini disebutkan beberapa fobia jenis kedua ini seperti: Fobia pada binatang (laba – laba, ular, anjing), fobia akan petir/kilat, fobia akan keadaan gelap gulita, fobia akan ketinggian (acrophobia), fobia pada ruangan sempit (agoraphobia), namun pada tulisan kali ini saya ingin membahas mengenai fobia akan ketinggian.

Achrophobia adalah sebuah ketakutan yang berlebihan(fobia) akan suatu tempat tinggi. Hal ini didukung mengenai pandangan perspektif seseorang (dalam hal ini adalah sang penderita acrofobia)  pada suatu bagunan atau tempat dimaa posisi penderita berada. Dapat dicontohkan seorang penderita fobia memiliki pandangan, memikirkan ketinggian sebuah gedung yang mana jauh lebih tinggi akan ketinggian yang sebenarnya. Seperti penyebab umum fobia, munculnya pandangan ini mungkin karena adanya rasa trauma mendalam mengenai kejadian yang pernah dialaminya atau dilihatnya (terjatuh dari gedung / hampir jatuh dari gedung atau melihat langsung kejadian kematian orang terjatuh dari gedung). Penderita acrophobia biasanya ketika dihadapakan pada posisinya yang sedang berada ditempat tinggi akan merasa tegang, berkeringat, mual, pusing, gelisah.  Hal yang membahayakan penderita pada kasus acrophobia ini adalah ketika penderita acrofobia berada dalam rasa takut fobianya saat di sebuah gedung tinggi ada suatu ajakan / bisikan untuk melompat terjun ke bawah.

Bukan berarti fobia itu tidak dapat disembuhkan namun tidak ada salahnya apabila sebuah terapi mengenai penanggulangan fobia dilakukan seperti:
Penyuluhan dari sisi psikis seperti konsultasi dengan psikoterapis mengenai permasalahan fobia dan bagaimana cara efektif untuk mengatasi dan melawan fobia. Atau bisa juga dengan dilakukannya berbagai terapi penyembuhan fobia secara bertahap.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar